Apakah Engkau Menginginkan Kebahagiaan?

www.iLuvislam.com

oleh : everjihad


Wahai Muslimah,

Sesungguhnya kebahagiaan itu semuanya ada dalam ketaatan kepada Allah. Kebahagiaan seluruhnya ada di dalam meniti di atas manhaj (jalan) Allah dan di jalan Rasulullah, Allah berfirman:

Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (Al-Ahzab: 71)


Sesungguhnya kesengsaraan (kemalangan) seluruhnya ada dalam kemaksiatan kepada Allah dan kebinasaan seluruhnya ada pada selain manhaj Allah dan Rasul-Nya, Allah berfirman:

Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata. (Al-Ahzab: 36)

Saudari,

Allah telah memuliakanmu, mensucikanmu dan mengangkat kedudukanmu. Tidak ada ajaran manapun yang lebih tinggi mengangkat darjat wanita selain ajaran Islam. Bahkan Allah banyak menurunkan hukum-hukum yang khusus berkenaan dengan masalah wanita di dalam kitab-Nya yang mulia. Sedangkan sebelum Islam, wanita dijadikan barang dagangan yang murah dan hina, bagaikan perhiasan yang tidak ada nilainya. Hina di mata walinya, hina di mata keluarganya, serta dihina kan oleh masyarakat. Oleh karena itu terkadang ia diperlakukan seperti binatang, bahkan perlakuan mereka terhadap binatang lebih baik daripada memperlakukan wanita. Sesungguhnya engkau, wahai saudariku muslimah, tidak akan mendapatkan kemuliaan kecuali dalam agama ini, maka berpegang teguhlah (dalam agama ini) dan dengarkanlah firman Allah yang telah menceritakan kisah orang terdahulu, mestilah engkau selalu mengingatnya agar engkau memuji Allah atas kenikmatan yang engkau dapatkan.

Allah berfirman:

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah ia akan memelihara dengan menanggung kehinaan, ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (An-Nahl: 58-59).


Ukhti Rahimakumullah,,

Sesungguhnya musuh-musuhmu banyak sekali, dan sesungguhnya orang yang ingin memanfaatkanmu dalam upaya meruntuhkan agama, rasa malu dan keutamaan banyak sekali, dan boleh jadi mereka itu dari kalangan kita sendiri. Salah seorang dari mereka (musuh-musuh Islam) berkata: “Tidaklah keadaan negeri Timur menjadi makmur melainkan apabila seorang pemudi melepaskan hijabnya dan membenamkan (menguburkan) Al-Qur’an dengannya!”. Sesungguhnya dengan hal itu mereka ingin mengeluarkanmu menuju kesengsaraan dan kebinasaan, mereka mengajakmu menuju neraka Jahanam. Maka jika engkau menyambut mereka, mereka akan melemparkanmu ke dalamnya. Mereka ingin agar engkau menjadi wanita durhaka, yang berbuat fasiq dan membuka aurat. Mereka berusaha mengiringimu. Mereka menunggumu dengan sangat sabar agar engkau melepaskan abaya (pakaian muslimah) serta melepaskan hijab dengan segala kesinambungan, yaitu melepaskan keimanan, rasa malu dan kesucian, kemudian engkau akan meninggalkan kewajiban-kewajiban lain nya. Pada saat itu, perbuatanmu tersebut menyenangkan mereka (para musuh), mereka mempermainkanmu seperti anak-anak bermain dengan bola, dan mereka mempermainkanmu seperti anjing-anjing bermain-main dengan bangkai, semoga Allah menjagamu dari mereka.

Saudariku Muslimah,

Buatlah mereka menjadi marah, dengan tidak memperhatikan mereka dan tidak mendengarkan mereka, buatlah mereka menjadi bersedih dengan keteguhanmu berpegang pada agamamu, dengan menjaga rasa malumu dan beriltizam (berpegang teguh) dengan hijabmu.

Apakah engkau tidak mendengar sabda Nabi :

Dua golongan ahli neraka yang aku belum pernah melihat keduanya (dan beliau menyebutkan): Para wanita yang memakai pakaian tetapi telanjang, mereka menyimpang dari jalan yang benar dan memperlihatkan kejelekan mereka kepada orang lain, kepala mereka seperti punuk unta yang miring mereka tidak akan memasuki surga, dan mereka tidak akan mendapatkan bau surga, sesungguhnya bau surga tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian. (HR. Muslim).


Para ulama berkata: makna para wanita yang memakai pakaian tetapi telanjang adalah bahwa mereka memakai pakaian akan tetapi pakaian-pakaian itu ketat, tipis atau tidak menutup seluruh badan.

Saudariku Muslimah,

Agamamu adalah bentengmu yang amat kukuh, (untuk) memelihara kesucian, rasa malumu dan kemuliaanmu. Agamamu memerintahkanmu untuk berhijab dan memiliki rasa malu. Bila saja engkau meninggalkan perintah ini, maka engkau akan ditimpa azab Allah di akhirat sedangkan di dunia engkau menjadi mangsa serigala-serigala manusia yang ingin mencuri kesucianmu agar engkau merasakan kesusahan (kesedihan) sepanjang hidup. Akan tetapi sebahagiannya semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka yang telah mendengar seruan serigala-serigala itu, tetapi malah bekerja untuk mereka.

http://www.iluvislam.com/v1/includes/jscripts/tiny_mce/plugins/imagemanager/library/e.jpg

Saudariku Muslimah,

Takutlah engkau kepada Allah dan laksanakanlah tugas-tugas yang Dia wajibkan kepadamu. Apabila hatimu mengeras maka ingatlah bencana yang telah menimpa orang lain. Engkau tidak tahu bilakah bencana itu akan datang kepadamu, sesungguhnya itu adalah maut yang pasti terjadi.

Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Ali-Imran: 185)


Ingatlah wahai wanita hamba Allah, pada hari di mana engkau diletakkan dalam kuburan, dalam lubang yang gelap dan sepi itu. Ingatlah ketika sangkakala ditiup dan engkau dikumpulkan bersama para makhluk dalam keadaan tidak memakai alas kaki, telanjang dan kebingungan. Matahari benar-benar akan dekat darimu kurang lebih satu mil, dan engkau akan dipanggil dengan namamu diantara para makhluk untuk dihisab. Bagaimana keadaanmu ketika itu wahai hamba Allah, Di mana persiapanmu wahai wanita yang lalai? Apakah jenis pakaian akan bermanfaat ketika itu? Apakah lagu-lagu yang menghiburkan, filem dan majalah-majalah (yang merosakkan) akan bermanfaat? Apakah barang-barang permata akan bermanfaat?

Tidak demi Allah!
Hal itu tidak akan memberikan manfaat sedikitpun selamanya. Yang bermanfaat hanyalah kebaikan-kebaikan, dan amal-amal shalih, setelah mendapatkan rahmat dari Rabb bumi dan langit.

http://www.iluvislam.com/v1/includes/jscripts/tiny_mce/plugins/imagemanager/library/im/human/design3.jpg

Ingatlah, bertaqwalah kepada Allah, wahai engkau yang bercampur-baur dengan laki-laki. Bertaqwalah kepada Allah, wahai engkau yang keluar (rumah) dalam keadaan memakai wangi-wangian menuju pasar-pasar dan jalan-jalan. Bertaqwalah kepada Allah wahai engkau yang menawarkan dirimu untuk berkhalwat (menyendiri) dengan laki-laki asing. Tidaklah seorang laki-laki bersepi-sepi (berduaan) dengan seorang wanita melainkan setan menjadi orang yang ketiga (diantara) keduanya. Bertaqwalah kepada Allah wahai engaku yang mendidik anak-anakmu dengan pendidikan yang tidak baik atau tidak benar. Ini terjadi apabila engkau tidak mengingatkan mereka dengan ketaatan kepada Allah, tidak menasehati mereka dan tidak menunjukkan mereka pada apa-apa yang dapat memberikan manfaat di dunia dan di akhirat. Bertaqwalah kepada Allah dan jagalah dirimu dari menjadi barang mainan orang-orang yang lemah iman. Bertaqwalah kepada Allah dan kembalilah pada petunjuk sebelum datang suatu hari yang pada hari itu hati-hati dan pandangan-pandangan (mata) dibalikkan. Ketahuilah bahwa azab Allah sangat keras, dan sesungguhnya engkau -demi Allah- tidak akan kuat merasakan azab neraka. Sesungguhnya gunung-gunung jika dilewatkan pada neraka maka dia akan meleleh
karena kuatnya panas neraka. Maka dimana engkau wanita yang lemah dibandingkan dengan gunung-gunung yang perkasa Sesungguhnya engkau mampu bersabar atas rasa lapar dan haus, dan engkau mampu bersabar atas bahaya. Akan tetapi demi Allah yang tidak ada ilah (penyembahan) selain Dia, tidak ada kesabaran bagimu terhadap neraka. Ingatlah, maka selamatkanlah dirimu dari neraka sebelum terlambat. Ketahuilah bahawa dunia ini pasti akan berlalu dan akhirat adalah tempat yang kekal.
Semoga Allah memberimu taufiq kepada apa-apa yang dicintai dan diridhai oleh-Nya, dan semoga Allah memberikan manfaat kepadamu dari apa-apa yang engkau dengar dan engkau baca, Semoga Allah menyampaikan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya seluruhnya.

“Wahai orng-orang yang beriman!Masuklah ke

dalam Islam secara keseluruhan,dan

janganlah kamu ikuti langkah-langkah

setan.Sungguh,ia musuh yang nyata bagimu”(Al-Baqarah:208)

Setiap manusia, apabila telah mengucapkan dua kalimat

Syahadat, maka dia menjadi orang Islam. Baginya wajib dan

berlaku hukum-hukum Islam, yaitu beriman akan keadilan dan

kesucian Islam. Wajib baginya menyerah dan mengamalkan hukum

Islam yang jelas, yang ditetapkan oleh Al-Qur’an dan

As-Sunnah.

Tidak ada pilihan baginya menerima atau meninggalkan

sebagian. Dia harus menyerah pada semua hukum yang

dihalalkan dan yang diharamkan, sebagaimana arti (maksud)

dari ayat di bawah ini:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak

(pula) bagi wanita yang Mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya

telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada bagi mereka

pilihan (yang lain) tentang urusan mereka …” (Q.s.

Al-Ahzab: 36) .

Perlu diketahui bahwa ada diantara hukum-hukum Islam yang

sudah jelas menjadi kewajiban-kewajiban, atau yang sudah

jelas diharamkan (dilarang), dan hal itu sudah menjadi

ketetapan yang tidak diragukan lagi, yang telah diketahui

oleh ummat Islam pada umumnya. Yang demikian itu dinamakan

oleh para ulama:

“Hukum-hukum agama yang sudah jelas diketahui.”

Misalnya, kewajiban salat, puasa, zakat dan sebagainya. Hal

itu termasuk rukun-rukun Islam. Ada yang diharamkan,

misalnya, membunuh, zina, melakukan riba, minum khamar dan

sebagainya.

Hal itu termasuk dalam dosa besar. Begitu juga hukum-hukum

pernikahan, talak, waris dan qishash, semua itu termasuk

perkara yang tidak diragukan lagi hukumnya.

Barangsiapa yang mengingkari sesuatu dari hukum-hukum

tersebut, menganggap ringan atau mengolok-olok, maka dia

menjadi kafir dan murtad. Sebab, hukum-hukum tersebut telah

diterangkan dengan jelas oleh Al-Qur’an dan dikuatkan dengan

hadis-hadis Nabi saw. yang shahih atau mutawatir, dan

menjadi ijma’ oleh ummat Muhammad saw. dari generasi ke

generasi. Maka, barangsiapa yang mendustakan hal ini,

berarti mendustakan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Mendustakan (mengingkari) hal-hal tersebut dianggap kufur,

kecuali bagi orang-orang yang baru masuk Islam (muallaf) dan

jauh dari sumber informasi. Misalnya berdiam di hutan atau

jauh dari kota dan masyarakat kaum Muslimin.

Setelah mengetahui ajaran agama Islam, maka berlaku hukum

baginya.

Adik bangun pagi. Adik kesat mata. Walid(ayah dalam bahasa Arab) yang kejut adik. Adik mengantuk sangat. Adik tarik gebar semula. Tidur balik. Walid geleng kepala bila nampak adik tidur balik. Walid tepuk belakang adik suruh adik mandi. Lepas mandi adik pakai baju baru. Ummi kata hari ini Hari Raya Aidilfitri. Semua orang pakai baju baru. Tapi adik tengok ummi pakai baju buruk, walid pun pakai baju buruk. Ummi cuma senyum bila adik mengajukan soalan itu. Ummi kata cukuplah adik seorang pakai baju baru. Walid pimpin tangan adik pergi masjid. Kami jalan kaki melalui denai-denai kecil. Sepanjang jalan adik dengar takbir raya. Allahu Akbar Allahu Akbar, La ilaha illallah huallahu akbar, Allahu Akbar wallilla hilham.. Adik khusyuk dengar. Merdu. Adik angkat tangan ke telinga, lagak seperti bilal masjid sambil menjerit takbir raya. Walid cuma ketawa kecil melihat gelagat adik.

“Mahasuci (ALLAH),yang telah memperjalankan hamba-Nya(Muhammad) pada malam hari

dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami

perlihatkan kepadanya sebahagian tanda-tanda(kebesaran) Kami.

Sesungguhnya Dia Maha Mendengar,Maha Melihat”(17:1)

Di persimpangan jalan, kami bertemu Pak Cik Nassier jiran adik. Adik pandang walid. Walid ralit berbual dengan Pak Cik Nassier. Adik dengar walid berbual tentang syahid, Yassier Arafat dan lain- lain lagi. Nama negara adik pun walid sebut, Palestin. Tapi adik tidak faham. Adik cuma mendengar. Adik tiba di perkarangan masjid. Masjid itu besar, tersergam indah. Masjid kebanggaan negara adik, Masjidil Aqsa.Walid pernah beritahu adik, Masjidil Aqsa kiblat pertama sebelum Kaabah di Mekah. Masjidil Aqsa juga adalah salah satu tempat suci dalam Islam. Nabi Muhammad s.a.w. pun mengalami peristiwa Israk dan Mikraj di masjid ini. Adik buka kasut dan masuk ke perut masjid. Adik lihat ramai orang. Semuanya duduk dalam saf. Walid tarik adik duduk di penjuru masjid, kemudian walid solat tahiyatul masjid.Adik ikut walid solat raya. Adik berdiri betul- betul dekat dengan walid. Adik pandang walid. Bila walid angkat tahbiratul ihram adik pun angkat. Mulut walid kumat kamit membaca sesuatu. Adik pun ikut sama walaupun adik tak tahu apa yang adik baca. Walid rukuk, adik rukuk. Walid sujud, adik sujud. Adik membilang anak tangga selepas selesai solat raya dan bersalam-salaman dengan jemaah yang lain. Walid ada di belakang adik. Suasana ketika itu tenang dan damai. Adik suka ketenangan. Adik tarik nafas, hirup dalam-dalam udara pagi.

Tiba-tiba ketenangan itu diragut. Adik nampak ramai orang bertempiaran lari. Adik juga nampak sekumpulan askar yang memegang senjata sedang mara menuju ke arah masjid. Adik dengar bunyi kuat. Bunyi tembakan. Walid dukung adik erat sambil melaungkan takbir Allahu Akbar. Adik takut. Adik pejam mata. Kaki walid yang kuat berlari tiba-tiba terhenti. Pautan tangan walid longgar dan akhirnya terlerai. Adik rasa seperti sekujur tubuh tumbang dan menghenyak adik. Adik pandang belakang. Mata adik terbeliak. Adik nampak tubuh walid. Kepala walid berdarah. Adik menjerit nama walid. Manik-manik jernih bergentayangan dan gugur satu persatu dari tubir kelopak mata adik.

Walid pandang adik. Walid cium pipi adik. Walid suruh adik lari. Adik geleng kepala. Adik pegang tangan walid. Adik hendak duduk di sisi walid. Walid senyum pada adik. Mulut walid lemah menutur kalimah syahadah. Adik goyang tubuh walid. Walid tidak bergerak. Walid kaku. “Waliiiiiiiiiiiiiiid!!!!!!!” Adik kesat air mata. Adik lari kuat-kuat. Adik lari tidak kalih kiri dan kanan. Sampai di rumah, adik terus menangis. Ummi hairan tengok adik. Adik sebut nama walid berkali-kali. Mayat walid di hantar ke rumah tidak lama selepas itu. Adik masih menangis. Adik tengok ummi cium dahi walid. Ummi peluk adik. Beberapa orang jiran cuba tenangkan ummi. Abang yang duduk di penjuru dinding juga menangis. Abang dah besar. Umur abang enam belas tahun. Abang pergi dekat walid,abang peluk dan cium walid. Selepas sembahyang adik nampak orang angkat walid keluar rumah. Abang pun ikut sama. Adik tidak ikut. Adik duduk rumah dengan ummi.

Adik tanya ummi, mana perginya walid. Ummi diam. Adik tanya lagi sambil menongkat dagu menunggu jawapan daripada mulut ummi. Ummi pandang adik, ummi kata walid pergi ke satu tempat yang sangat cantik. Walid pergi tidak akan kembali lagi. Adik cuma mengangguk.” Adik nak ikut walid” Ummi geleng kepala dan peluk adik. Adik lap air mata di pipi ummi. Adik senyum, ummi senyum. Petang itu ramai kawan abang datang. Abang ajak mereka ke belakang rumah. Adik berlari-lari anak ikut abang ke belakang. Abang tekun membuat sesuatu. Sesuatu yang menyerupai senapang. Adik cuma duduk diam dan tengok. Kawan-kawan abang pun khusyuk membuat kerja.

Adik menguap berkali-kali. Boring duduk diam tanpa melakukan sebarang kerja. Tidak keletah adik dibuatnya. Mata adik melilau-lilau mencari barang mainan. Adik nampak benda bulat seperti bola. Adik pergi dekat cuba mencapai benda itu. Adik pegang dan belek. Sedang adik seronok bermain, abang rampas ‘bola’ adik. Adik masam. Adik tarik muncung empat belas. Adik marah pada abang. Abang tersenyum melihat tingkah laku adik. Dengan lembut abang mencubit pipi montel adik. Abang beritahu adik yang benda itu bom tangan bukannya bola seperti yang disangka adik. Adik diam, kemudian berlari mendapatkan ummi. Merajuk.

Adik bangun awal pagi itu. Tidak seperti hari-hari lain, Walid tidak ada untuk kejut adik. Apabila teringat Walid,mata adik berkaca. Adik tidak mahu menangis. Adik orang lelaki. Orang lelaki tidak boleh menangis, orang lelaki kena kuat dan tabah. Adik nampak abang sedang bersiap-siap. Abang galas beg besar. Semua benda yang abang buat semalam abang bawa. Benda bulat seperti bola pun abang bawa. Kawan-kawan abang semuanya sedang menungu di depan rumah. Abang cium tangan ummi, minta izin untuk pergi. Ummi peluk abang, cium abang berkali- kali. Adik cuma memandang dengan mata terkebil-kebil. Adik garu kepala yang tidak gatal. Abang datang dekat adik. Abang dukung adik, usap kepala adik. “Adik jaga ummi ya” pesan abang. “Abang nak pergi mana” Tanya adik seperti orang bodoh. “Abang nak pergi berjuang”. Abang mengukir senyuman mengakhiri bicara.

Kelibat abang hilang ditelan kabus pagi. Hanya lambaian tangan adik mengiringi pemergian abang. Lepas abang pergi ummi cerita macam-macam perkara pada adik. Pasal Israel, pasal syurga, pasal jihad dan banyak lagi. Semuanya adik tidak faham. “Isra..Israfil. ” terkial-kial adik menyebut perkataan itu dalam pelat yang pekat. “Bukan Israfil. Israfilkan nama malaikat. Malaikat yang tiup sangka kala. Israel.” Ummi membetulkan sebutan adik. “Is.ra.el” akhirnya adik berjaya menyebutnya juga. Ummi ketawa kecil. Adik ikut ketawa menampakkan sebaris gigi adik yang ronggak. Ummi kata Israel jahat. Israel musuh umat Islam. Israel juga musuh Allah. Israel yang mencetuskan peperangan di bumi Palestin. Israel yang bunuh walid. Adik benci Israel. Adik benci sesiapa yang menjadi musuh Allah.

Adik lari keluar rumah. Adik pergi ke jalan besar. Ramai kanak-kanak sebaya adik di situ. Mereka semua baling batu kepada sekumpulan tentera yang bersenjata di seberang jalan. Adik ingat lagi, tentera itulah yang bunuh walid. Merekalah Israel. Adik marah. Adik geram. Adik capai batu, adik baling kuat-kuat. Adik pejam mata. Terbayang di kepala adik peristiwa yang menimpa walid. Adik sertai kawan-kawan adik yang lain; membaling batu. Kadang-kadang kami lari apabila tentera itu menyerang balas. Ada juga kawan-kawan adik kena tembak. Tumbang satu persatu. Adik nampak baju mereka merah berlumuran darah. Adik lari menyorok di sebalik bangunan usang untuk menyelamatkan diri. Adik lari bersama seorang kawan adik. Namanya Jamal. Dia juga sama dengan adik. Walidnya juga pergi ke suatu tempat yang sangat cantik dan tidak akan kembali lagi. Apabila keadaan semakin reda, adik pulang ke rumah. Adik berjanji dengan Jamal untuk melontarkan batu lagi pada keesokkan harinya.

Sesampai di rumah adik berasa sangat lapar. Adik cari roti di dapur. Adik buka almari, adik cari dalam almari tapi tidak jumpa. Perut adik mula berbunyi minta diisi. Adik sudah makan roti petang tadi tapi adik masih berasa lapar lagi. Adik nampak ummi pegang roti. Itu sajalah satu-satunya roti yang tinggal di rumah kami. Ummi tidak makan apa-apa lagi sejak pagi tadi. Adik pergi dekat ummi. Ummi yang baru menyuapkan roti ke mulutnya tersentak. Ummi keluarkan semula roti dari mulutnya dan suapkan ke mulut adik. Adik kunyah dengan gelojoh. “Ummi, Kenapa kita hidup susah?” adik tanya pada ummi dengan mulut dipenuhi roti. Ummi pangku adik di ribanya. Ummi mengelus lembut rambut adik. “Kita kena sabar sebab sabar itu cantik” ujar ummi perlahan. “Cantik macam syurga ke ummi?” adik tanya lagi. Ummi senyum. “Nabi Muhammad s.a.w. pun hidup susah juga. Baginda dilontar batu ketika menyebarkan dakwah di Taif. Malahan kaum Quraisy ramai yang ingin bunuh nabi. Nabi sabar, nabi tak cepat putus asa” sambung ummi lagi. Adik dengar dengan khusyuk. Adik nak jadi baik macam Nabi Muhammad s.a.w. Nama adik pun Muhammad. Walid yang cadangkan nama itu. Walid hendak adik tabah dan cekal macam Nabi Muhammad s.a.w. Malam itu adik duduk bersila depan ummi sambil tangan memegang Al-Quran. Adik ikat serban sendiri. Adik lilit serban ikut suka hati adik. Sekejap adik lilit ke kiri, sekejap ke kanan. Kadang- kadang serban itu tutup mata adik. Adik kuak sedikit kain serban ke atas ketika hendak membaca Al- Quran. “Bismillahirrahmani r rahim..” Adik baca Al-Quran dengan bersungguh- sungguh. Adik baca kitab Allah itu dengan tekun. Ummi duduk depan adik sambil memerhati bacaan adik. Adik hendak jadi macam abang. Umur enam tahun sudah khatam Al-Quran. Adik baru umur tiga tahun. Adik kena baca Quran dengan rajin kalau hendak khatam Al-Quran cepat macam abang. Adik ingat pesanan ummi. Ummi kata Al-Quranlah satu-satunya harta yang paling berharga. Adik ingin baca Al-Quran hari-hari. Adik tidak mahu ponteng baca Al-Quran. Bacaan adik terhenti apabila pintu diketuk dan nama ummi dilaung-laungkan dari luar.

“Syukur ya Huda, anakmu Yassin mati syahid” muncul Mak Cik Fatima di depan rumah.

“Anakmu, anakmu adalah salah seorang pengebom berani mati ya Huda. Tindakannya menyebabkan tujuh orang askar Israel laknatullah terbunuh. Yassin dan tiga orang lagi pejuang Hizbullah mati syahid. Semoga syurga menanti mereka kelak” terang Mak Cik Fatima panjang lebar. Ummi panjatkan doa pada Allah semoga roh abang ditempatkan dalam golongan orang-orang yang beriman. Adik kaget. Nama Israfil. Bukan. .Israel disebut lagi. Adik benci mendengar nama itu. Kemarahan adik meluap-luap. Ummi beritahu adik abang telah pergi ikut walid. Ummi kata ummi bangga mempunyai anak seperti abang. Adik masuk tidur awal. Adik mimpi satu tempat yang sangat cantik. Adik nampak walid dan abang di sana. Walid dan abang senyum pada adik. Adik cuba kejar mereka tapi semakin adik kejar semakin mereka menghilang. Keesokkan harinya, adik tunggu Jamal di tepi jalan seperti yang dijanjikan. Lima minit berlalu Jamal tidak muncul-muncul juga. Hampir setengah jam adik tunggu tapi Jamal tetap tidak muncul. Adik tidak suka orang yang mungkir pada janji. Adik ingat lagi, salah satu ciri orang munafik ialah mungkir apabila berjanji. Adik tidak mahu jadi munafik. Adik tanya kawan-kawan adik yang lain.

Rupa-rupanya Jamal juga seperti walid dan abang. Jamal pergi ke satu tempat yang cantik. Tempat yang adik tidak tahu di mana letaknya. Semua orang yang adik sayang pergi ke tempat itu. Mula-mula walid, kemudian abang dan akhirnya Jamal. Adik pulang ke rumah awal. Adik terkejut. Terkesima sebentar. Rumah adik dikepung askar Israel. Mereka memang sedang mencari keluarga adik ekoran tindakan berani mati abang mengebom kubu Israel. Tubuh adik yang kecil memudahkan adik menyusup masuk ke dalam rumah. Adik nampak ummi terpelosok di satu sudut.

jihad.jpg

Adik lihat dengan mata adik sendiri, tentera itu tendang ummi. Mereka sepak dan terajang ummi. Tapi ummi masih bersabar. Ummi tidak putus- putus menyebut satu kalimah keramat..Ahad. .Ahad. Mata adik merah. Adik menahan marah. Adik tidak suka orang pukul ummi. Adik sayang ummi. Adik benci Israel. Seorang tentera Israel mengacukan pistol ke arah ummi. Ummi dengan tenang menghadapinya. Tiada pun segaris garisan gusar terpancar diwajah ummi. Ketika peluru dilepaskan, tiba- tiba… .. “Muhammad!!! ! !!!” Ummi menjerit sambil memegang tubuh adik.

Badan adik berlumuran darah. Pekat dan merah. Adik raba perut adik. Adik rasa sakit. Sakit yang mencucuk-cucuk. Seketika tadi adik telah korbankan tubuhnya untuk melindungi ummi. Natijahnya peluru itu merobek perut adik yang tidak berdosa. Ummi peluk adik. Ummi menangis semahu-mahunya. Adik cuba senyum pada ummi walaupun perit. “Ummi.adik rasa mengantuk, adik nak tidur. Adik nak jadi mujahid,adik nak ikut walid dan abang” terketar-ketar suara adik kedengaran di cuping telinga ummi. Ummi angguk, berusaha sedaya upaya untuk menahan air mata daripada jatuh bercucuran. Adik pejam mata. Adik nampak walid, abang dan Jamal melambai-lambai ke arah adik.

Wassalam.

Dalam pemodenan dunia masa kini,ada yang tertanya-tanya sama ada Islam menentang kekayaan dan perolehan harta. Ada pula yang memainkan perkataan “zuhud” bagi menyokong kempen dan kefahaman mereka.

Selain itu, ada juga mengatakan zuhud jika berumah,berpakaian dan berkereta using walaupun mmpunyai harta. Membiarkan umat islam tidak membina sebarang kilang, bangunan, dan perniagaan kerana ia dikira sebagai zuhud, iaitu lari daripada dunia sejauh-jauhnya. Dengan demikian dunia akan datang kepada kita. Adakah ini benar-benar yang diarahkan oleh Islam??

ALLAH SWT berfirman :

“ Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.” (Al-A’la:16)

Seterusnya:-

“Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Al-A’la:17)

Jadi sahabatku,apakah ZUHUD sebenarnya??

Sebenarnya zuhud bukanlah:

1) Menjauhkan diri daripada dunia

2) Berpakaian lusuh

3) Berkereta dan berumah buruk dalam keadaan mampu

4) Membiarkan diri miskin

Zuhud yang sebenarnya adalah mengutamakan kehidupan akhirat daripada dunia. Sebagaimana yang dinyatakan dalam surah Al-A’la ayat 16 dan 17 di atas, yang mana ALLAH SWT menyifatkan orang bukan Islam mengutamakan dunia semata-mata, kemudian ALLAH SWT menyebut kehidupan akhirat lebih baik dan kekal.

Apabila ALLAH SWT menggunakan perkataan ‘lebih baik’ ini bermakna kehidupan dunia adalah lebih ‘baik’, cuma akhirat ‘lebih baik’ dan ‘lebih kekal’. Justeru, Islam tidak sesekali melarang umatnya mencari yang baik. Nabi SAW juga pernah menyebut bahawa ALLAH SWT itu maha baik dan suka yang baik-baik.

Jadi sahabat sekalian, manusia pada hakikatnya lebih senang mencari dunia sehingga melupakan akhirat. Tapi,apakah maksud melupakan akhirat? Ia bermaksud megenepikan, tidak endah serta malas mencari ilmu tentang halal haram dalam pemerolehan dan perbelanjaan hartanya. Orang sebegini tidak endah sama ada ia riba, rasuah, pecah amanah, curi dan lain-lain, yang penting baginya adalah poket semakin penuh. Termasuklah juga, mengabaikan kewajipan Islam kerana terlalu mabuk dalam mencari harta seperti tidak solat, tidak berzakat, abaikan tanggungjawab kepada rumahtangga dan lain-lain.

ALLAH SWT berfirman:

“Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia,”

(Al-Qiyaamah:20)

“dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.”

(Al-Qiyaamah:21)

Maka kesimpulannya, diharuskan mencari harta sebanyak-banyaknya dengan syarat ia tidak melalaikan daripada akhirat. Melalaikan akhirat adalah dengan tidak mengendahkan hokum Islam dan mengambil ringan tentangnya. Fokus utama mereka hanyalah memperoleh keuntungan dan menebalkan poket sahaja. Halal haram diletakkan sebagai hal kedua. Justeru, fahamilah konsep sebenar dalam pencarian harta ini, fahamilah pandangan Islam dalam semua instrumen mendapatkan harta. Tidak dapat dinafikan terlalu banyak cara dan methode baru serta canggih diperkenalkan tapi awas, tidak semuanya membawa kebahagiaan di akhirat kelak.

Bersifat zuhud bukanlah bermaksud membiarkan diri miskin, tidak berusaha, berpakaian dan berkenderaan lusuh dalam keadaan berharta dan mampu. Namun,ambillah dunia ini secukupnya dan tidak berlebih-lebihan. Diharapkan umat Islam tidak menjadikan zuhud sebagai alasan penyebab tidak majunya mereka dan pula tersilap sangka konsep zuhud sebenarnya.



Peperangan Ta’if ini merupakan sambungan kepada peperangan Hunain, kerana sebahagian besar dari saki baki tentera Huwazin dan Thaqif telah lari bersama turus agungnya Malik bin Aufke “Ta’if”, mereka berkubu di sana, lantaran itu maka Rasulullah segera memburu mereka ke sana setelah selesai membersih kawasan Hunain dari tentangan dan pengurusan al-Ghanimah di “al-Ja’ranah”. Peristiwa ini berlaku pada bulan Syawal tahun 8 hijrah.Ghazwah ini telah didahului oleh satu pasukan peninjau yang dipimpin oleh Khalid ibni al-Walid dengan kekuatan tentera seramai 1,000 orang. Setelah itu barulah Rasulullah (s.a.w) memasuki ke Ta’if. Dalam perjalanan ini Baginda telah melalui an-Nakhlah al-Yamaniyah, melalui Qaran al-Manazil kemudian memasuki Liyah, di sana terdapat kubu Malik bin Auf dan Baginda memerintah supaya dirobohkan. Setelah itu Ilaginda meneruskan perjalanan hingga sampai ke Ta’if dan berkhemah berhampiran dengan kubu Ta’if. Seterusnya Baginda mengepung kubu berkenaan. Pengepungan dan perintah berkurung tidak mengambil masa yang panjang, kerana mengikut riwayat Anas melalui Imam Muslim mengatakan bahawa pengepungan ke atas mereka itu memakan masa empat puluh hari, tetapi ahli al-Sirah menyatakan pendapat yang berlainan, ada yang mengatakan dua puluh hari, ada pendapat sepuluh hari, yang lain mengatakan lapan belas hari dan ada yang menyebut lima belas hari.

Di dalam tempoh pengepungan ini berlaku panah memanah dan lontar melontar tombak dipermulaan pengepungan kaum muslimim menghadapi lontaran panah bagaikan hujan, menyebabkan beberapa orang Islam terkena lontaran tersebut, dua belas orang dari mereka gugur syahid, hingga terpaksa mereka berpindah dari garis pertahanan mereka ke suatu tapak lain, tapak itu dikenali sebagai tapak masjid al-Ta’if yang ada sekarang ini. Sebagai tindakan seterusnya Rasulullah menghala “Manjaniq” pelontar peluru batu ke arah penduduk al-Ta’if menyebabkan sebahagian benteng mereka runtuh. Ini membuka jalan kepada tentera Islam memasuki ke dalam benteng dengan perisai bergerak mereka, tetapi di masa itu musuh telah sempat menuang cecair besi dari atas benteng menyebabkan perisai mereka terbakar bersama-sama dengan tentera yang dibawahnya. Dengan itu tentera yang berada di bawahnya lari dek kepanasan, semasa mereka lari dari perisai, mereka dihujani dengan anak panah, menyebabkan banyak yang gugur syahid.

Salah satu cara dan taktik perang yang digunakan, Rasulullah memerintah supaya dimusnahkan pokok-pokok anggur musuh. Ini bertujuan untuk memaksa mereka menyerah kalah, dengan itu tentera Islam menebang dan menebas pokok-pokok anggur. Apabila orang-orang Thaqif melihat tindakan menebas sedang dijalankan, lalu mereka meminta belas kasihan kerana Allah. Maka Rasulullah pun menangguhkannya demi kerana Allah dan kasihan belas. Untuk tindakan selanjutnya seorang pemberitahu bagi pihak Rasulullah, mengisytiharkan dengan katanya: “Sesiapa sahaja yang keluar dari dalam benteng dan mendatangi kami beliau adalah bebas”. Dengan itu maka keluar seorang lelaki bersama dengan dua puluh tiga (23) orang, lelaki itu dikenali sebagai Abu Bakarah kerana beliau turun dari atas benteng melalui Bakarah iaitu kincir, kesemua mereka ini dibebaskan oleh Rasulullah, tiap seorang dari mereka diserahkan kepada orang-orang Islam untuk di beri makan Penghuni benteng terasa keberatan untuk menerima tindakan Rasulullah ini.

Oleh kerana terlalu lama mengepung benteng, dan tidak nampak tanda-tanda yang ianya akan jatuh dan menyerah kalah, di samping tentera Islam terus mengalami kecederaan kerana lontaran panah atau tersimbah cecair besi, penduduk benteng sudah pula membuat persiapan yang cukup kiranya mereka terkepung, mereka masih boleh bertahan untuk tempoh setahun. Untuk itu Rasulullah bertanya pendapat Naufal bin Muawiah al-Dili, jawab beliau “Mereka ini tak ubah seperti musang di dalam lubangnya sekiranya tuan hamba tunggu di sini bolehlah tuan hamba mengambilnya dan kalau ditinggalkan ianya tidak membahayakan”. Oleh itu maka Rasulullah pun berazam untuk membatal pengepungan dan berangkat pulang. Sebagai tindakan seterusnya maka Rasulullah menyuruh Umar bin al-Khattab memaklumkan kepada orang ramai dengan suaranya: “Kita semua akan berangkat pulang esok InsyaAllah”. Buat sesetengah orang terasa berat tindakan ini, lantas mereka berkata: “Apa? kita hendak berangkat pulang tanpa membuka kubu mereka?”. Jawab Rasulullah: “Baiklah, kalau begitu, esok kamu seranglah mereka”. Pada keesokan harinya mereka membuat serangan, menyebabkan ada di antara mereka yang tercedera. Di masa itu Rasulullah berkata: “Esok kita berangkat InsyaAllah”. Para sahabat pun terasa gembira dengan pelawaan Rasulullah itu dan semua orang pun patuh. Dengan itu, mereka pun beredar dari situ, sedang Rasulullah tersenyum melihat telatah para sahabatnya. Semasa mereka sedang beredar dari situ, Rasulullah menyeru mereka beramai-ramai melafazkan:

    Kami pulang, kami bertaubat kami beribadat, kepada Tuhan jua kami memuji.

Dan kata mereka seterusnya: “Wahai Rasulullah: Doakankemusnahan Thaqif”. Maka kata Rasulullah: “Ya Allah! Ya Tuhanku, berilah hidayat kepada Thaqif dan bawalah mereka semua kepangkuan kami”.

PEMBAHAGIAN HARTA RAMPASAN DI AL-JA’RANAH

Sekembalinya Rasulullah selepas pembatalan pengepungan ke atas Thaqif di Ta’if, Rasulullah terus tinggal di al-Ja’ranah untuk selama sepuluh hari lebih, tanpa membahagikan rampasan-rampasan perang, malah Rasul sengaja melambatkannya, dengan harapan ahli Hawazin akan kembali bertaubat, hingga dengan itu mereka berhak meng.ambil balik barang-barang mereka tetapi tak seorang pun dari mereka berbuat demikian. Dengan itu Rasulullah pun membahagikan harta-harta rampasan itu, bertujuan untuk menutup mulut orang-orang yang hendak sangat harta- harta itu terutamanya pemuka-pemuka dan pemimpin qabilah-qabilah dan kenamaan-kenamaan Makkah. Golongan muallaf adalah orang yang pertama diberikan dan mereka mendapat habuan yang lumayan. Rasulullah memberi kepada Abu Sufian sahaja empat puloh auqiyah emas dan seratus ekor unta, namun beliau bertanya lagi: “Anak ku Yazid”? Rasulullah memberi qadar yang diberi kepada Abu Sufian juga, kemudian kata Abu Sufian: “Anakku Muawiyah”? Maka Rasulullah memberi kepada Muawiyah kadar yang sama juga, Rasulullah memberi kepada Sufwan bin Umaiyah seratus ekor unta kemudian ditambah seratus lagi dan tambah seratus yang lain pula.

Baginda memberi kepada al-Harith bin al-Harith bin Kildah seratus ekor unta, hal yang sama dilakukan kepada pemimpin Quraisy yang lain diberinya tiap orang seratus ekor unta, kemudian yang lain diberinya masing-masing lima puluh ekor tiap seorang. Hal ini telah menimbulkan rungutan di kalangan orang ramai bahawa Muhammad mengagih-agih harta rampasan bagaikan tidak takut papa, menyebabkan orang-orang Arab Badwi mengesa-gesa permintaan mereka dari Rasulullah, hinggakan mereka memaksa-maksa Rasulullah, dan Rasulullah berganjak ke belakang hingga tersandar ke sepohon pokok. Tidak setakat itu sahaja malah sanggup mereka merentap kain Rasulullah meminta supaya dibahagikan kepada mereka, hingga terpaksa Rasulullah menyebut: “Hai manusia, kain itu kain aku, pulangkan balik kepada ku, demi Allah yang diri ku ditanganNya, kalaulah aku ada unta sebanyak pohon-pohon kayu di Tihamah nescaya aku agihkan kepada kamu semua, hingga tidak ada orang menyebut aku ini masih bakhil, takut dan berdusta lagi”. Setelah itu Rasulullah berdiri di samping untanya dan mencabut seurat bulu di bunggul untanya. Baginda memegang bulu unta tadi dan mengangkatnya sambil berkata: “Wahai kalian, demi Allah aku tidak hendak barang rampasan kamu itu seberat bulu unta ini, kecuali bahagian seperlima itu sahaja dan yang seperlima itu pun diserahkan kembali kepada kamu”.

Setelah dibahagikan harta rampasan tadi kepada golongan “Muallafah Quiufuhum” yakni golongan mualaf, Rasulullah meminta Zaid bin Thabit membawa baki harta rampasan dan penerima-penerimanya, disitu juga Rasulullah membahagikannya, di mana setiap orang memperolehi empat ekor unta, dan empat puluh biri-biri namun walau macam mana sekali pun askar berkuda memperolehi dua belas ekor unta dan seratus dua puluh (120) ekor biri-biri. Pembahagian harta-harta rampasan ini berdasarkan kepada siasah yang bijak, kerana di dunia ini terdapat seramai manusia untuk diajak kepada kebenaran melalui kekenyangan perut mereka dan bukannya melalui minda akal, sepertimana binatang-binatang diajak untuk melalui jalahnya dengan seberkas rumput yang terus memasuki kandangnya lantaran seberkas rumput yang diumpankan di hadapannya. Demikianlah halnya dengan ragam manusia yang memerlukan kepada pancingan supaya dapat berjinak dengan cahaya iman, merasa selesa dan bersenang dengannya.

Terkilannya orang-orang Ansar Ibnu Ishak meriwayatkan melalui Abu Said al-Khudri, katanya: Apabila Rasulullah memberi saham-saham rampasan kepada orang-orang Quraisy dan qabilah-qabilah lain, sedang al-Ansar tidak diberi sesuatu pun kepada mereka, maka timbullah bisikan-bisikan sesama mereka, malah ada sungutan dari mereka yang menyebut: Demi Allah, nah sekarang Rasulullah sudah bertemu kembali dengan kaum sebangsanya, di masa itu Saad bin Ubadah datang menemui Rasulullah dengan berkata: Wahai Rasulullah, kini orang-orang Ansar sudah terkilan flengan tindakan yang tuan hamba telah lakukan itu, dengan pemberian yang begitu banyak di kalangan kaum sebangsa tuan hamba, dan perkara ini tidak berlaku pula di kalangan orang-orang Ansar. Kemudian tanya Rasulullah: “Di dalam hal ini di mana sikap kau?” Jawab Saad: “Wahai Rasulullah, aku ini tidak lebih dari seorang individu dari kaum ku”. Kata Rasulullah pula: “Kalau demikian ajaklah semua kaum mu itu ke tempat ini”.

Dengan itu Saad pun mengumpul kaum al-Ansar ke tempat yang diperintahkan oleh Rasulullah, terdapat juga beberapa orang Muhajirin yang telah turut ke situ, mereka dibenarkan, kemudian ada sekumpulan yang lain telah ditolak. Sebaik sahaja mereka telah berkumpul di situ Saad pun datang menemui Rasulullah dan berkata: “Mereka semua sudah berkumpul wahai Rasulullah. Dengan segera Rasulullah datang menemui mereka, setelah bertahmid dan memuji Allah Baginda terus berkata: “Wahai kalian Ansar, sebenarnya telah pun sampai kependengaran ku sungutan-sungutan kamu itu dan luahan-luahan perasaan kamu semua. Baiklah! Tidakkah semasa ku datangi kamu dalam kesesatan lalu Allah hidayatkan kamu? Tidakkah kamu dalam kesusahan kemudian Allah cantumkan hati-hati kamu?” Kemudian jawab mereka: “Bahkan ya Rasulullah, Allah dan RasulNya lebih baik dan lebih afdhal”. Kemudian Rasulullah bertanya: “Mengapa kamu tidak menjawab daku wahai al-Ansar?” Jawab mereka: “Dengan apa yang akan kami jawab wahai Rasulullah?” Katakanlah: “Bagi Allah dan RasulNya jua kebaikan dan kelebihan”.

Seterusnya Rasulullah berkata lagi: “Demi Allah, kalau kamu mahu kamu boleh berkata dan kamu boleh membenarkan ungkapan ku ini”. Lantas jawab mereka: “Kami mendatangi mu wahai Rasulullah dalam keadaan didustai lalu kamilah yang membenarkan tuan hamba, engkau yang diabaikan lalu kamilah yang membantu tuan hamba, dan engkau yang terlantar lalu kamilah yang memeliharakan tuan hamba”. Seterusnya Baginda berkata: “Wahai kalian al-Ansar, apakah kamu masih terkilan lagi dengan sisa-sisa dunia yang menjadi tarikan buat sesetengah orang, sedang kamu sudah pun pasrah pada Islam? Wahai kalian Ansar tidakkah kamu boleh merelai dengan orang ramai pulang bersama dengan unta dan kambing sedang kamu membawa pulang Rasulullah? Demi Tuhan yang jiwa Muhammad di tanganNya, kalau tidak kerana hijrah nescaya ku ini adalah salah seorang kaum al-Ansar dan seandainya orang ramai memilih satu lorong dan kaum al-Ansar memilih satu lorong yang lain nescaya ku pilih dan ku lalui lorong orang-orang Ansar, Ya Allah Ya Tuhanku kasihanilah kaum Ansar, anak- anak kaum Ansar dan anak cucu Ansar”. Mendengarkan kata-kata tersebut, maka sekalian hadirin pun menangislah hingga janggut mereka dibasahi dengan air mata sambil mereka berkata: “Kami rela bersamamu wahai Rasulullah sebagai habuan dan bahagian kami”. Dengan itu Rasulullah pun beredar dari situ dan diikuti oleh sekalian yang hadir.

KETIBAAN ROMBONGAN HAWAZIN

Selepas pembahagian rampasan tiba-tiba datanglah rombongan Hawazin yang terdiri dari empat belas orang sebagai orang-orang Islam, mereka dikepalai oleh Zahir bin Sord, bersama-sama rombongan ialah Abu Burqan bapa saudara sepenyusu Rasulullah (s.a.w), rombongan Hawazin meminta Rasulullah memulangkan kepada mereka orang-orang tawanan dan harta-harta rampasan mereka.

Setelah berbicara dengan Rasulullah dengan bahasa yang amat halus memikat hati, kemudian jawab Rasulullah: “Sebenarnyabersama-sama ku ini orang-orang yang kamu tengok ini, sebaik-baik bahasa pada ku ialah yang paling benar, sekarang aku hendak tahu, mana satukah yang tersayang bagi kamu, anak isteri atau harta? Jawab mereka: Tiada suatu pun boleh menandingi anak-anak keturunan kami. Maka kata Rasulullah: Nanti apabila aku hendak sembahyang tengahari (maksud Rasulullah sembahyang Zohor) di masa itu kamu semua bangun dan ucaplah: Sebenarnya dengan perantaraan Rasulullah kami memohon kepada kamu semua dan sebaliknya dengan perantaraan kaum mu’min kami memohon kepada Rasulullah supaya dikembalikan kepada kami orang-orang kami yang ditawan itu.

Sebaik sahaja Rasulullah bangun untuk menunaikan sembahyang Zohor maka sekalian rombongan Hawazin itu pun bangun dan menyeru kepada seluruh kaum muslimin di situ sepertimana yang diajarkan kepada mereka oleh Rasulullah (s.a.w). Dengan itu jawab Rasulullah (s.a.w): “Adapun apa yang di dalam tangan ku dan di tangan Banu Abdul al-Muttalib adalah kembali semula kepada kamu. Dan dengan ini aku meminta kalian berbuat seperti yang ku lakukan”. Maka sahut golongan al-Ansar dan al-Muhajirin: “Apa yang ada di tangan kami terserahlah kepada Risulullah (s.a.w)”. Berkatalah al-Aqra’ bin Habis: “Adapun, apa yang di dalam tangan ku dan Banu Tamim tidak sama sekali”. Kata Uyainah bin Hisn pula: “Apa yang di dalam tangan kami dan Banu Fazarah tidak akan dikembalikan”. al-Abbas bin Mirdas pula berkata: “Apa yang di dalam tangan kami dan Banu Salim tidak sama sekali”. Tetapi kata Banu Salim: “Apa yang di dalam tangan kami adalah untuk Rasulullah (s.a.w)”. Makasampok al-Abbas. bin Mirdas: “Kamu semua telah menjadikan aku lemah”.

Seterusnya Rasulullah bersabda dengan katanya: “Sebenarnya rombongan mereka ini telah datang dengan keadaan memeluk Islam, dan sebelum ini daku telah cuba melengahkankan pembahagian rampasan untuk memberi kesempatan kepada mereka, tetapi mereka terlewat, mereka datang setelah sudah ku membuat pembahagian, namun demikian ku telah beri tawaran kepada mereka, untuk mereka membuat pilihan, tetapi mereka tidak berganjak dari pendirian mereka, iaitu mereka mengutamakan kepulangan anak isteri mereka ke pangkuan mereka, maka sesiapa yang memiliki anak isteri mereka dan terasa senang untuk memulang kembali adalah dialu-alukan dan sesiapa terasa hendak memiliki terus tawanan itu juga kita berseru supaya memulangkan kepada Banu Hawazin. Bagi orang yang berbuat demikian ganjaran pada setiap sahamnya adalah enam kali ganda dari apa yang dianugerahkan Allah ke atasnya”. Maka kata sekalian yang hadir: “Kami bersenang hati untuk mematuhi Rasulullah (s.a.w)”. Jawab Rasulullah: “Namun demikian kami belum dapat mengenali mana di antara kamu yang merelainya dan mana yang tidak, ayuh kamu pulang dahulu, kemudian ketua-ketua kamu membentang semula perkara ini kepada kami”.

Akhirnya kaum perempuan dan anak Hawazin dipulangkan ke pangkuan keluarga mereka, kecuali yang di bawah milik Uyainah bin Hisn yang enggan untuk memulangkan seorang perempuan tua, namun walau bagaimanapun kesudahannya beliau serahkan juga dan Rasulullah menyelimutkan tawanan yang berketurunan Qibtiah itu dengan kain tenunan Mesir.

UMRAH DAN PULANG KE MADINAH

Selepas selesai pembahagian harta rampasan di Ja’ranah, Rasulullah pun berihram untuk menunaikan umrah, kemudian terus Baginda berangkat pulang ke Madinah setelah melantik Utab bin Usaiyed sebagai gabenor Makkah. Kepulangan Rasulullah ke Madinah adalah pada enam hari terakhir bulan Zulkaedah tahun kelapan (8) Hijrah. Syeikh Muhammad al-Ghazali merakamkan di dalam bukunya “Fiqh al-Sirah” : Betapa jauhnya jarak masa di antara kemenangan yang dicapai setelah Allah mengalungkan diri Baginda dengan pembukaan yang mulia ini dengan masa kedatangan Baginda ke bumi ini di lapan tahun yang silam. Baginda tiba sebagai seorang yang diburu, mencari perlindungan, berdagang, berkelana, meminta pemeliharaan dan penjagaan, lalu dimuliakan dan direstui, dibantu dan disokongi. Akhirnya kaum muslimin memperolehi petunjuk yang dianugerah kepada Baginda itu. Malah mereka semua tidak keberatan untuk mempertahankan Baginda. Kini genap lapan tahun Baginda memasuki al-Madinah yang di suatu ketika dulu menyambut Baginda sebagai seorang perantauan hijrah yang ketakutan, kini orang yang sama menyambut Baginda pula, selepas Makkah tunduk di bawahnya. Makkah yang di suatu ketika dahulu sombong dan bongkak kini melutut dihadapanya menyerah diri untuk diproses dengan nilai-nilai murni Islam. Baginda memaafi segala keburukan dan kesombongan silamnya.

nrihsan.”

1. Islam ialah satu sistem yang syumul. Ia merangkumi seluruh fenomena kehidupan. Ianya adalah kerajaan dan negara, atau pemerintah dan rakyat. Ianya adalah akhlak dan kekuatan, atau belas kasihan dan keadilan. Ianya adalah keilmuan dan undang-undang atau ilmu dan kehakiman. Ianya adalah kebendaan dan harta benda, atau pendapatan dan kekayaan. Ianya adlah jihad dan dakwah atau tentera dan fikrah; serta ianya juga adlah aqidah sebenar dan ibadah.

2. Al-Qur’an al-karim dan as-Sunnah al-Mutahharah merupakan sumber rujukan setiap muslim dalam memahami hokum-hukum Islam. Hendaklah muslim itu memahami al-Qur’an menurut kaedah bahasa Arab tanpa takalluf atau ta’assuf. Dalam memahami as-Sunnah al-Mutahharah, hendaklah muslim tersebut merujuk kepada ahli-ahli hadith yang thiqah.

3. Iman yang sebenar, ibadah yang sahih dan mujahadah mempunyai nur dan halawah yang dianugerah oleh Allah ke dalam hati hambanya yang dikehendaki; tetapi ilham, lintasan fikiran, ramalan yang tepat (al-kasyf) dan mimpi bukanlah terdiri daripada alasan hukum syara’. Ianya tidak diambil kira kecuali dengan syarat tidak bertentangan dengan hukum-hakam agama dan nas-nasnya.

4. Tangkal, jampi, tekaan, ramalan, ma’rifat, nujum, dan dakwaan mengetahui sesuatu perkara ghaib serta lain-lain perkara yang termasuk dalam kategori ini, kesemuanya adalah kemungkaran yang wajib diperangi melainkan ianya datang dari Qur’an atau jampi yang pernah diamalkan oleh Nabi s.a.w. dan para sahabat r.a..

5. Pendapat imam dan naibnya dalam perkara-perkara yang tidak ada nas dan dalam nas yang mengandungi beberapa tafsiran serta dalam perkara-perkara masolihul mursalah, adalah diamalkan selama ia tidak bercanggah dengan kaedah syara’. Pendapat itu boleh berubah mengikut masa, ‘uruf, dan adat. Asal (pokok) di dalam ibadah ialah at-ta’abbud, tanpa melihat kepada konsep (al-maani) yang terkandung di dalam ibadah itu; tetapi di dalam perkara-perkara biasa (bukan ibadah) hendaklah dilihat rahsia, hikmah, dan tujuannya.

6. Pendapat seseorang boleh diterima atau ditolak kecuali percakapan Rasulullah s.a.w., kerana baginda bersifat suci daripada dosa (ma’sum). Pendapat salaf yang bersesuaian dengan al-Kitab dan dan as-Sunnah hendaklah kita terima. Jika tidak sesuai, maka hendaklah kita mengikut kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya. Tetapi, dalam perkara yang mereka (salaf) pertikaikan, maka janganlah kita menghentam mereka atau melukakan mereka secara peribadi, malah malah kita menyerah kepada niat mereka; sesungguhnya mereka telah sampai kepada apa yang mereka lakukan.

7. Setiap muslim yang belum mencapai darjat an-nazar (keupayaan membuat fatwa) di dalam dalil hukum-hakam cabang, hendaklah dia mengikut mana-mana dari salah seorang imam fiqh. Disamping itu, adalah baik sekiranya muslim tersebut berusaha berijtihad seberapa daya yang boleh dalam usaha untuk mengetahui dalil-dalilnya. Dia hendaklah menerima semua tunjuk ajar yang disertakan dengan dalil (jika dia mendapati orang itu layak dan berkelayakan). Dia hendaklah menyempurnakan kekurangan ilmiahnya, sekiranya ianya adalah dari ahli ilmu, sehingga ia dapat mencapai darjah an-nazar.

8. Pertikaian fiqh dalam masalah cabang janganlah dijadikan sebab untuk perpecahan dalam agama, malah janganlah ianya menjadi punca permusuhan dan kebencian sesama sendiri. Walaupun demikian, tidak dilarang mencari kepastian ilmiyah yang luhur di dalam masalah-masalah tetapi usaha-usaha itu hendaklah dilakukan di dalam suasana kasih saying kerana Allah dan bantu membantu untuk mencapai hakikat tanpa kepura-puraan dan ta’asub.

9. Perbicaraan ke atas setiap masalah yang tidak boleh diamalkan adalah termasuk di dalam bab al-takalluf (menyusahkan diri dengan sengaja) yang ditegah oleh syara’. Termasuk di dalam perkara ini ialah mengadakan berbagai hukum cabang bagi perkara-perkara yang tidak berlaku, berbicara tentang pengertian ayat-ayat al-Qur’an al-Karim yang pengertian belum lagi dapat ditemui oleh sains (ilmu pengetahuan) dan termasuk juga perbicaraan tentang mengutamakan sesetengahsahabat r.a. ke atas sahabat-sahabat lain serta pertikaian mereka. Sesungguhnya setiap sahabat itu mempunyai kelebihan tersendiri sebagai seorang sahabat dan ada balsan terhadap niatnya. Walaubagaimanapun, tidak mengapa mengadakan ta’wil (ulasan) dengan niat baik.

10. Ma’rifatuLlah, mentauhidkan-Nya, dan menyucikan-Nya adalah aqidah Islam yang paling tinggi. Ayat-ayat mengenai sifat Allah dan hadith-hadith sahih tentangnya dan perkara-perkara lain yang terdiri daripada (ayat-ayat) yang samara, maka semua ini kita beriman dengannya menurut bentuk yang dinyatakan tanpa membuat sebarang ta’wil tanpa ta’til (meninggal) dan tanpa terlibat dalam pertikaian yang berlaku di anatara ulama. Kita hendaklah menurut cara (yang telah dilakukan) oeh RasuluLlah s.a.w. dan sahabat-sahabat baginda. Allah berfirman:

والراسخون فى العلم يقولون ءامنا به كل من عند ربنا

Maksudnya:

“Dan orang-orang yang mendalam ilmunya akan berkata: kami beriman kepada ayat-ayat yang mutashabihat. Semuanya itu dari sisi Tuhan kami.”

(Aali Imran: 7)

11. Setiap bid’ah di dalam deen Allah, yang tidak ada asal baginya yang dianggap baik oleh manusia menurut keinginan hawa nafsu mereka sendiri samada melalui tambahan atau pengurangan adalah seuatu kesesatan yang wajib diperangi dan dihapuskan, tetapi dengan cara yang paling baik sehingga ia tidak menimbulkan pula keburukan yang lebih dasyat (dari adanya bid’ah tersebut).

12. Bid’ah tambahan, peniggalan dan kelaziman di dalam ibadah-ibadah yang mutlak adalah merupakan perkara fiqh yang dipertikaikan, setiap pihak mempunyai pendapatnya yang tersendiri. Adalah tidak mengapa dicari hakikat dengan dalil dan bukti.

13. Kasih kepada salihin, menghormati dan memuji mereka terhadap perbuatan baik yang mereka lakukan adalah merupakan qurbah (cara mendekatkan diri) kepada Allah s.w.t.. Bermulanya auliya’ itu adlah mereka yang disebutkan oleh Allah di dalam firmannya:

“”

Maksudnya:

“Orang-orang yang beriman dan benar-benar bertaqwa”

(al-Fusilat: 18)

Mereka mempunyai karamah menurut syarat-syarat syara’. Tetapi hendaklah kita yakin mereka tidak mempunyai kuasa untuk memberi manfaat atau menimpakan mudharat kepada diri mereka sendiri ketika mereka hidup atau sesudah kematiannya, apatah lagi jika hendak menghibahkan sesuatu dari perkara tersebut kepada orang lain.

14. Menziarahi kubur tidak kira di mana sekalipun merupakan sunnah yang dibenarkan menurut cara yang diamalkan oleh RasuluLlah s.a.w. dan para sahabat. Tetapi memohon bantuan daripada ahli-ahli kubur, biar siapapun mereka, menyeru dan meminta supaya disempurnakan hajat (dari jauh atau dekat), bernazar, embina kubur,membuat bumbung, memasang lampu, melurut-lurut dengan tangan, bersumpah dengan selain dari nama Allah serta bid’ah-bid’ah lain semuanya itu adlah dosa besar yang wajib diperangi. Walaubagaimanapunkita tidaklah perlu menta’wil perbuatan-perbuatan bid’ah seperti itu kerana mengelak daripada bahaya yang lebih besar daripada untung.

15. Doa apbila disertakan dengan tawassul kepada Allah dengan slah seorang dari makhluk-Nya adalah merupakan perkara pertikaian furu’ (khilaf far’e) di dalam kaifiyat doa. Walaubagaimanapun, perkara ini tidak termasuk dalam maslah-maslah aqidah.

16. Uruf yang salah tidak mengubah hakikat lafaz-lafaz syara’. Malah wajib dipastikan batasan makna-makna yang dimaskudkan oleh lafaz-lafaz itu serta berpegang dengannya. Di samping wajib pula dijaga dari penipuan ungkapan kata (lafaz) dalam semua perkara dunia dan deen. Al-Musammayat (perkara yang dinamakan) itu yang dipegang dan bukan nama (al-asma’) yang menjadi pegangan.

17. Aqidah adalah asas (segala) amalan. Amalan hati adalah lebih penting dari amalan anggota. Berusaha memperolehi kesempurnaan di dalam kedua-duanya adalah dituntut oleh syara’ biarpun kedua-dua martabat tuntutan itu berbeza.

18. Islam membebaskan akal malah memberi galakan supaya (akal itu) memikirkan tentang alam. Islam juga mengangkat nilai ilmu dan ulama disamping mengalu-alukan sebarang hasil (ilmiyah) yang berfaedah. “Himat” itu adlah sebagai suatu harta seorang mukmin yang hilang, di mana ditemukan maka dia berhak memiliknya.

19. Kadang-kadang pandangan syara’ dan pandangan akal itu tidak secucuk, tetapi kedua-duanya tidak bertelingkah di dalam perkara yang qat’i (putus) yakin bukan dalam perkara yang dzan. Hakikat ilmiyah yang betul tidak akan mencanggahi kaedah syara’ yang tetap. Perkara-perkara dzanni (tidak putus) dari kedua-duanya hendaklah dita’wilkan supaya secocok dengan perkara qat’I Dalam hal kedua-duanya adalah dzan maka pandangan syara’ adalah lebih utama diikuti sehinggalah hukum ‘aqli itu tetap atau musnah.

20. Kita tidak mengkafirkan seseorang muslim yang berikrar dengan dua kalimah syahadah, beramal dengan kehendak keduanya, dan menunaikan fardhu-fardhu samada ia berpegangdengan suatun pendapat atau melakukan maksiat, kecuali jika ia mengucap kalimah kufur, atau ia mengingkari sesuatu perkara yang nyata diketahui kebenarannya di sisi agama, atau ia mendustakan sesuatu sudah jelas dinyatakan oleh Qur’an, atau dia mentafsirkan Qr’an dengan cara yang berlawanan sama sekali dengan ulub Arab atau dia mengerjakan sesuatu perbuatan yang tidak boleh ditakwil lagi selain kufur.­

Pernah seketika dulu saya rasa saya tak berguna..
Masa dalam kelas kawan-kawan semua tak suka..
Saya nak ‘join’, kawan kata saya menyibuk..
Ada pula yang kate saya kuat emo..
Sikit-sikit nak marah..
Padahal sebenarnye saya nak tegur mereka buat bising masa belajar..

Lepas tu saya cuba buat lawak
kononnya nak tarik perhatian orang lain
saya paling gembira bila ada orang gelak bila dengar lawak saya
terutamanya pelajar-pelajar perempuan..
Budak-budak lelaki semua kata saya ‘mat capub’(cari publisiti)..
tapi saya tak kesah..
asalkan ada yang terhibur..



Tapi saya tetap merasakan kekosongan..
Memang lumrah manusia..
Seoarang lelaki akan tertarik kepada wanita
Macam itulah yang saya rasa..
Saya tengok kawan-kawan dah ada yang ‘couple’..
Di dorm sms awek sampai pagi..
ada yang call awek sampai satu malam boleh habis 10 ringgit..

Saya mula berfikir..
“Adakah aku perlu BERCINTA?”
Dengan menggunakan akal seorang pelajar tingkatan 4 itu..
saya pun mula menanam tekad untuk ber’couple’..
Dan masa itulah saya kenal awak..

Seorang muslimah yang bertudung labuh,

Yang menjadi gadis idaman saya..
saya rase saya dah jumpa orang yang paling penting dalam hidup saya..

Mula-mula awak jual mahal..
Tapi saya tak kisah..nak beli gak..
akhirnya, dipendekkan cerita..
saya pun mulalah BERCINTA..

Masa bercinta,memang saya sangat-sangat bersemangat
Apa orang kata..’ALL OUT’lah..
haha..
Saya selalu call awak,awak pun selalu call saya..
‘gayut’ malam-malam..kadang-kadang saya pun habis RM10 satu malam..
Tetapi segala PENGORBANAN yg dilakukan masa ber’couple’ tu..
Tidak terasa pun kehilangannya..

Mase bercinta memang indah..
Semuanya indah..
Sikit-sikit gurau-gurau
Sikit-sikit gelak-gelak
kalau merajuk men pujuk2..
kalau ‘birthday’ kita sambut sama-sama..

Untuk diri ini,terasa amat bahagia..
Sebab masa itulah terasa diri ini dihargai..
Saya pernah terikir..
Biarlah kawan-kawan saya tu pandang saya semacam,
kata saya macam-macam..
Asalkan awak memahami saya..

Satu hari saya dengar ceramah..
Alhamdulillah..
Dalam ceramah tu saya sedar,saya banyak buat dosa
dan saya kena brubah..
Hidup saya mesti selari dengan Islam..
Saya kena jadi baik..
Sebab memang itu fitrah manusia..menginginakan kebaikan..
semua orang nak masuk syurga kan?

Sejak dari saat itu saya mula rapatkan diri dengan masjid..
Rapatkan diri dengan Al-Quran..
Selalu solat jemaah awal waktu..
Selalu dengar tazkirah..

Saya beli terjemahan Quran, sebab nak tadabbur Quran
Saya beli dua, satu untuk saya, satu untuk awak,
Saya taknak jadi baik seorang diri..
jadi saya ajak awak sekali..
Saya ajak awak baca Al-Quran..
saya kejut awk bangun subuh..(calling)
saya ajak awak saling beri tazkirah..

Mula-mula awak terkejut dengan perubahan saya..
Awak ingat saya dah nak jadi alim, nak brenti couple.
Saya kata,kita bukan buat benda yang salah..
bercinta kerana Allah..

KITA COUPLE “ISLAMIC”
Kita couple tak macam orang lain..
Orang lain couple ‘jiwang-jiwang’ je..
ade yang siap wat maksiat lg..
pegang-pegang tangan dan macam-macam lagi..
Tapi kita couple baik-baik..
Jaga batas-batas syara’..
Tak guna ayat jiwang-jiwang
janji taknak jumpa, takut berlaku maksiat..
cuma sms dan call je..

Dan awk terima perubahan saya itu..
Saya pun banyak nasihat awak..
Awk pun terima..
Walaupun kadang-kadang awak merajuk sebab teguran saya tu
Tapi saya faham, perubahan memerlukan masa..
Dan akhirnya saya rasa..
Hubungan kita semakin diredahai..
Saya salu doa supaya kita akan kekal sampai ke gerbang perkahwinan..

Dalam proses perubahan saya,
Saya mula menyedari bahawa berdakwah itu wajib..
Kita kena menyampaikan kepada orang tentang kebenaran.
Kalau kita tidak berdakwah..
kita akan dipertanggungjawabkan oleh Allah di akhirat kelak.
sesuai dgn firmanNya dlm surah Al-A’raf,
surah ke 7,ayat ke 164:

Dan (ingatlah) ketika suatu umat di
antara mereka berkata: “Mengapa kamu
menasihati kaum yang Allah akan
membinasakan mereka atau mengazab mereka
dengan azab yang amat keras?
” Mereka
menjawab: “Agar kami mempunyai alasan
(pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu,
dan supaya mereka bertakwa”.

Lepas tu saya mulalah beri tazkirah pada kawan-kawan dan adik-adik
Tegur mereka apa sahaja yang silap..
Saya tak boleh tahan bila tengok orang buat salah/dose..
Saya mesti nak tegur.
Selemah2 iman tegur dengan hati, oleh sebab saya nak jadi orang kuat iman..
Ape lagi..tegur je la depan-depan..huhu~~

Lepas tu, satu masa..
saya terbaca pasal couple..

COUPLE HARAM

Saya tak percaya..
tapi bila baca detail-detail yang dia bagi..
macam betul pulak..
huhu~~
tapi biasala..
kalau kita suka satu benda tu..
kita tetap akan cari alasan untuk ‘membenarkan’ pendapat kita..

Saya pun buat tak tahu pasal benda tu..
dan teruskan saja hubungan kita..
kita tak buat maksiat..
Kita jalan-jalan pegang tangan..
tak jiwang-jiwang..
Cuma saling ambil berat..
Tanya khabar..
Borak-borak..
Siap bagi tzkirah lagi..
Apa yang haramnya dengan benda ni?
Tak kisahlah..

Masa terus berlalu…

Masa ni dah nak dekat Trial SPM..
lagi tiga minggu sebelum trial..
dalam masa tu, saya memang rajin study dengan kawan..
buat study group
Pada masa yang sama, bagi tazkirah..

Ada yang terima..
ada juga yang buat tak tahu
Kadang-kadang bila tegur..
saya kena marah pula..
macam-macamlah alasannya
ada kata saya tegur tak berhikmah..
ada yang kata saya menunjuk-nunjuk je..
Tapi tak kisah..
saya ada tempat mengadu..
huhu~~

Suatu masa..
ketika sedang mentadabbur Al-Quran seorang diri..
saya terjumpa ayat ini..

Mengapa kamu suruh orang lain
(mengerjakan) kebajikan, sedang kamu
melupakan diri (kewajiban) mu sendiri,
padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)
?
Maka tidakkah kamu berfikir?

(Al-Baqarah, ayat 44)

Saya pun terfikir..

“Selama ini aku asyik tegur orang je.
Tapi aku sendiri masih banyak kekurangan,
Cepat marah, suka buang masa,
ade gak dosa-dosa yang masih dilakukan..
Macam mana ya?”

Lepas tu terjumpa pula ayat ini..

Dan janganlah kamu campur adukkan yang
hak dengan yang batil
dan janganlah kamu
sembunyikan yang hak itu, sedang kamu
mengetahui.

(Al-Baqarah ayat 42)

Tiba-tiba saya terfikir satu keritikan kawan..

“Alah kau tu..cakap je berapi..gaya alim,tapi couple gak..sama aje kau
dengan kami..tegur orang konon..”

Berfikir sejenak..
Sebenarnye ber’couple’ ni boleh ke tidak?
Adakah selama ini saya hanya menganggap ia boleh?
Habis tu, kenapa saya rasa malu bila mak dan ayah
tahu saya selalu berhubung dengan perempuan?
Dan terkadang saya rasa serba salah?

Macam-macam yang saya fikir..

Dipendekkan cerita lagi sekali..
saya ke Pulau Pinang untuk mengikuti satu seminar dkwh..
Saya harap dengan seminar ni kefahaman saya mengenai dakwah akan lebih mantap..

Dalam perjalanan ke seminar tu..
saya masih sms lagi dengan awak dalam bas..
sempat lagi pesan-pesan supaya jangan lupa baca Al-Quran hari ini, solat awal waktu..
Dalam fikiran saya..
“Ni kira dakwah juga..saling ingat-mengingati..”

******

Majlis malam itu berakhir dengan sesi ta’aruf,
pukul 10 semua orang dah bebas untuk aktiviti sendiri
Lagipun kami semua penat..
takkan nak panjang-panjangkan program sampai tengah malam..
pihak penganjur pun faham..

Tiba-tiba saya tergerak hati untuk bertanya dengan fasilitator yang ada di situ..
Saya rasa inilah masa terbaik untuk tanya pendapat dia tentang couple.
Tapi saya tragak-agak..
“Kalaulah betul couple tu salah..habis tu,nak
buat macam mana? Aku kena clash ke?
Alah,buat apa fikir macam tu..tanya je la. Kalau
tak buat salah, apa nak ditakutkan?”

Lalu saya menghampiri ‘Brother’ fasilitator tu..
Masa tu dia tengah membelek-belek terjemahan Al-Qurannya seorang diri.

“Assalamualaikum, bang, saya nak tanya sikit
boleh?”

“Em,boleh..duduklah. Nta nak tanya apa?”

“Er..macam ni,sebelum saya terlibat dengan dakwah ni, saya ada kenal seorang
kawan ni, perempuan la. Tapi bukanla setakat kawan biasa..rapat gak la. Bukan rapat biasa,tapi rapatla..”

“Bercinta ke?”

Saya malu nak cakap yang saya couple. Nanti apa pula brother tu kate..mesti dia marah nnt. Saya pun angguk. Lepas tu saya tanya..

“Sebenarnya..couple ni boleh ke tak bang?”

“Akhi, memang fitrah manusia, lelaki akan tertarik kepada perempuan, begitu juga perempuan akan tertarik kepada lelaki. Tapi dalam Islam, perasaan itu perlu dikawal dan ada batasnya. Pergaulan perlu dijaga. Allah firman dalam surah Al-Isra’, surah ke 17, dalam ayat yg ke 32:
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.

“Tapi bang,saya tak nampak pun yang kami ni menghampiri zina. Niat kami baik. Saya dah cuba sedaya upaya mengawal perhubungan kami. Sms pun takdelah jiwang-jiwang, selalu bagi tazkirah lagi. Kami selang-selang bagi, hari ni saya, esok dia.”

Saya tak mahu mengalah.

“Memang betul niat nta baik. Tapi ingat, niat tak pernah menghalalkan cara. Yang batil tetap sahaja batil, yang haq tetap haq. Cuba tengok ayat ni.”
Sambil brother tu bukak Al-Quran dia, dan tunjuk pada saya ayat ini:
Dan (juga) kaum Ad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. Dan setan menjadikan mereka memandang baik
perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam.

(Surah Al-Anakabut,Surah 29, ayat 38)

“Akhi, kalau nta paham ayat ni, sebenarnya apa yang berlaku pada nta ialah, setan telah buat nta pandang indah benda buruk yang nta lakukan. Walaupun nta berpandangan tajam, maksudnya nta berilmu tinggi. Memang pada mulanya niat nta baik, tapi ingat, syaitan itu sangat licik. Dia akan sedaya upaya buat nta terjerumus ke dalam kemaksiatan. Lagipun, takkanlah sepanjang masa nta sms dengan dia, nta ingat Allah. Mesti ada masanya nta hanya melayan perasaan dengan dia, kan?”

Betul juga katanya. Lepas tu saya kata, “Tapi bang, saya dah janji dengan dia taknak jumpa lg. Sebab saya tahu kalau berjumpa nanti banyak bahayanya. Dan dia pun setuju. Kami sama-sama menjaga diri. Takkanlah ia boleh membawa kepada zina juga bang?”

“Em, betul, nta dah janji taknak jumpa dengan dia lagi. Nta dah dapat

elakkan zina mata, zina tangan, zina kaki. kalau nta janji taknak call die pula, nta dapat elak zina telinga dan zina lidah. Tapi akh..masih ada zina yang tetap nta tak dapat elak apabila bercouple..”

“Zina hati?” Saya menduga.

“Betul, zina hati. Semua inilah yang Rasulullah jelaskan dalam hadithnya tentang bagaimana menghampiri zina tu. Nta boleh ‘check’ dalam Riyadahus Solihin, bawah bab larangan melihat wanita. Rasulullah bersabda, mata boleh berzina dgn melihat, lidah boleh berzina dengan bercakap, tangan boleh berzina dengan berpegangan. Kaki boleh berzina dengan berjalan ke arah tempat maksiat. Hati pula boleh berzina dgn merindui, mengingati dan membayangi si dia. Hakikatnye, macam mana pun nta buat, nta tetap tak dapat lari daripada zina hati.”

Saya terdiam..kelu. Tak tahu apa nak dikata. Semua yang brother tu kata tiada yang salahnya. Kemudian dia sambung..

“Ana dulu pun couple gak. Lagi lama daripada nta. Sejak sekolah sampai dah masuk U, dekat nak gred. Tapi bila ana sedar apa yang ana buat ni salah, ana trus tinggalkan. Ana siap dah fikir, dialah bakal isteri ana, yang akan jadi ibu kepada anak-anak ana. Kalau nak diikutkan lagi besar masalah ana daripada nta.”

“Saya risau la bang. Nanti apa kawan-kawan dia kata. Dulu saya selalu minta tolong mereka untuk rapat dengan dia. Mesti nanti mereka semua tak puas hati dengan saya. Dan dia sendiri pula, saya takut apa-apa akan jadi pada dia kalau dia tak dapat terima keputusan ni. Sebab kami dah rapat sgt.”

Masa tu saya dah mula sebak. Malu betul. Menangis depan brother tu cerita pasal benda ni. Nasib baik tak ada org lain masa tu. Brother tu jwb..

“Kalau kawan-kawan dia tak puas hati pun, mereka boleh buat apa? Paling teruk pun, mereka akan mengata di belakang nta. Nta tak kurang sikit pun. Lagipun, dalam berdakwah ni, kita nak cari redha Allah, biarlah orang nak kata apa-apa sekali pun, yang penting redha Allah. Kalau Allah tak redha, semuanya dah tak bermakna lagi.”

Saya trdiam lagi.

“Pasal die pula, cube nta fikir dari sudut positif, mungkin dia akan terima keputusan nta scara matang. Mungkin dia juga akan buat keputusan untuk tidak lagi bercouple. Ana yakin, die takkan buat apa-apa perkara bodoh. Kalau die buat sekalipun, itu bukan tagguungjawab nta, apa yang nta nak buat tu betul, meninggalkan maksiat. Semua orang akan tanggung balasan atas perbuatannya sndiri.”

Saya dah tak dapat tahan lagi. Masa itu saya menangis, saya dah sdar yang saya kena berhenti couple. Dah jelas sekarang, couple tu haram.

“Jadi apa saya nak buat bang?”

“Ana dulu, hantar satu sms je kat dia. Ana terangkan pada dia hubungan yang dibina itu salah. Minta maaf, kita berakhir di sini. Tolong jangan cari saya lagi. Lepas itu ana terus tukar nombor. Ana tak hubungi dia langsung lepas tu.”

“Maksudnya, saya tak boleh hubungi dia lagi ke? Tapi bang, saya ade juga kawan perempuan lain, boleh pula saya hubungi mereka?”

“Dengan dia ni lain. Nta dah pernah ada ‘sejarah’ dengan dia. Tapi, kalau nanti ditaqdirkan nta satu universiti dengan dia, satu kuliah, lepas tu kena pula buat group discussion, masa tu nta hanya layan dia hanya sebagai group discussion partner.”

Tiba-tiba saya terfikir..

“Dia ni nak suruh aku clash malam ni gak ke? Sekarang gak? Takkanlah awal sangat?”

Saya cakap..

“Saya rasa saya belum ade kekuatan la bang. Boleh tak saya tunggu sampai saya ada kekuatan, baru saya tiggalkan benda ni?”

Saya ingat nak lari la. Lalu dia jawab..

“Akh, nta kena ingat. Kekuatan itu tidak boleh ditunggu, tapi ia perlu dibina. Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga kaum itu mengubah keadaannya sendiri. Nta boleh rujuk surah Ar-Ra’du,surah ke-13,ayat 11. Lagipun, nta nak tuggu sampai bila baru nak tinggalkan couple ni..abang-abang fasilitator ni pun ramai yang pernah couple, bila masuk dakwah, mereka tiggalkan.”

Alamak…tak boleh lari lagilah nampaknye..saya rasa macam brother ni paksa saya clash masa tu juga.

“Semuanya dah jelas rasanya..Nampaknya saya kena tiggalkanla benda ni gak ye. Macam tak larat rasanya nak tekan button handphone ni. Rasa tak sanggup.”

“Kalau tak sanggup mari ana tolong tekankan.”

“Eh, tak apalah bang. Biar saya taip sendiri.”

Teragak-agak saya nak taip masa tu. Tapi saya gagahkn juga diri..

“Semuanya dah jelas..buat apa aku tangguh-tangguh lagi. Takut nanti hidayah ni Allah tarik, susah pula nak tinggalkan. Kan aku selalu doa supaya dijauhkan dari maksiat..jadi rasanya, inilah masanya..”

Lalu perlahan-lahan saya taip sms tu..

“Assalamualaikum..Sebenarnya selama ini hubungan kita salah di sisi Islam. Saya ingat dengan mengubah cara pergaulan kita, ia dah dibolehkan, tapi sebenarnya ia tetap berdosa. Saya harap awak akan istiqamah meneruskan perubahan yang awak dah buat, kerana Allah. Saya minta maaf atas segala yang dah berlaku. Kalau ada jodoh insya-Allah, akan bertemu juga. Assalamualaikum..”

Berat betul nak hantar sms tu kat awk. Saya masih tak mampu nak ucap selamat tiggal. Sebab tu dalam sms tu saya hanya akhirkan dengan ucapan salam. Lepas beberapa ketika..saya tekan juga button [send].

Lepas tu tertera di skrin..

[SENDING..]

[MESSAGE SENT]

Masa tu saya rasa macam separuh hidup saya dah hilang. Macam tak percaya..saya dah hantar 1 sms, dan clash dengan awak..

“Terima kasih bang..”

“Takpe, dah tanggungjawab..”

Malam tu saya saya tidur dengan linangan air mata..tak sangka..mmg tak disangka..Saya memang tak pernah terfikir untuk clash, tapi itulah yang terbaik untuk kita sbenarnya..
Tiba-tiba saya teringat ayat Allah..surah Al-Baqarah,ayat 216..

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Masa terus berlalu.. Saya terus sibukkan diri dengan kerja-kerja lain. Dalam usaha nak lupekan awk, bukan senang,tapi saya terus cuba. Saya selalu bagi tazkirah, ingatkan orang.
Saya bagi ta’lim di msjid, terangkan pada orang, couple haram, tunjuk segala dalil.. Macam-macam yang berlaku..ada kritikan..ade gk yg stuju..tapi tak kisahlah semua tu..

Tiba-tiba satu pagi ni, dapat sms daripada awak..awak bagi gambar bunga..bawah tu ada ayat..

“Seindah gubahan pertama..”

Saya rasa awak masih tak dapat lupakan saya. Saya pun fikir..”Kena tegaskan rasanya”. Lepas tu saya hantarlah sms ni. Dan rasanya itulah yg terakhir..

“Tiada yang lebih indah daripada mendapat keredahaan ilahi..seindah manapun gubahan pertama tu, selagi tak mendapat keredahaanNya, tetap tiada gunanya..

Assalamualaikum..saya tahu, dulu saya cakap, kalau ada jodoh, insya-Allah akan bertemu juga. Tapi saya taknak awak tunggu. Lupakan saya. Biar Allah yang menentukan..Lagi satu,

Jangan cari cinta manusia,
ia penuh dengan penipuan,
kekecewaan,
dan tak kekal..

Tapi carilah cinta Allah..
tiada penipuan,
tidakkan pernah mengecewakan
itulah cinta abadi..
Cinta yang diredahai..

-Yang Terakhir- “

[SEND]

[SENDING..]

[MESSAGE SENT]

Saya dah buat keputusan.
Saya pasti apa yang saya buat ni betul.
Saya yakin, Allah akan sediakan yang terbaik untuk saya.
Saya takkan berpatah balik..

Takkan..buat selama-lamanya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.